Tuesday 15 March 2011

Tuesday, March 15, 2011
Silahkan klik tulisan atau gambar untuk lanjut membaca Gereja di Meksiko Lebih Tegas Menolak 'Sedekah Narco'. MEXICO CITY (MEKSIKO) - Gereja berwarna Jingga dengan salib di atasnya ini mungkin kelihatan seperti Gereja Katolik Roma pada umumnya.

Namun ada sejarah kelam yang terus mengikutinya, gereja itu dibangun dari sumbangan yang diberikan oleh Heriberto Lazcano, yang lebih dikenal dengan sebutan ‘si Algojo’, komandan dari sindikat kejahatan yang kejam bernama Zetas.

Sejak sumber keuangan gereja ditelusuri oleh pemerintah empat bulan yang lalu, Gereja Katolik Roma di Mexico mencoba berkonfrontasi dengan sejarahnya yang berkaitan erat dengan pedagang obat-obatan.

Ketergantungan yang lama dengan pemberian tanpa memperhatikan siapa yang memberi, membuat gereja bergumul mengenai peranannya atas kematian ribuan orang yang meninggal karena obat-obatan, peperangan antara para gangster, dan secara umum juga kriminalitas.

“Hal ini membuat semua gereja dalam keadaan bahaya,” kata Rev. Hugo Valdemar, seorang juru bicara keuskupan terbesar di Mexico. “Hasilnya, masyarakat kita berubah, dan menjadi lebih kuat.”

Gereja harus lebih jauh lagi melangkah, dengan tegas menolak ‘narcolimosnas’ atau ‘sedekah narco’ dalam hal kaitannya dengan pedagang obat-obatan tersebut.

Menurut juru bicara gereja mengatakan bahwa pasti ada beberapa tempat ibadah lainnya yang dibangun dari uang obat-obatan, yang sering diartikan seperti cuci uang untuk jiwa mereka. Dan Romo Valdemar, yang juga bekerja dalam konferensi uskup di Mexico, gereja tidak punya strategi tertentu bagaimana bisa membuat jalan keluar yang benar dalam hal ini dan tidak punya rencana bagaimana menjadi arahan dalam menjangkau pembunuh.

Rev. Robert Coogan (58), lahir di Brooklyn mengatakan bahwa donasi yang mencurigakan itu sudah mengakar di dalam kehidupan beragama di negara itu. Zetas sendiri pernah menawarkan donasi 6-10 kali lipat dari donasi pada umumnya untuk baptisan.

Ketika dia menolak sembari memikirkan beberapa orang yang berada dalam bahaya dan kelaparan, Romo Voogan menjelaskan bahwa hal itu dapat membuat kami berpikir untuk berkata, “Hei, pria yang mempunyai pabrik itu seorang bajingan, namun kita ambil uangnya, jadi kenapa kita tidak menerima uang hasil obat-obatan?”

Sumber: NY Times